NGAK NGIK NGOK?

Sore itu, RRI Pro 2 memutar lagu-lagu pop dari berbagai macam band. Mulai dari yang terkenal seperti Ungu, sampai yang baru pertama kali saya dengar namanya seperti Merpati Band. Sambil berbaring dan melamun, saya menyimak lagu-lagu yang hampir semuanya bernuansa cinta dan kesedihan itu. Lagu-lagu populer memang hampir selalu menyajikan cinta dan kesedihan: dua ciri yang hampir tak pernah hilang dari genre lagu tersebut sejak pertama kali muncul di Indonesia.

Di awal tahun 1960-an, Koes Bersaudara, group musik pengusung lagu yang sering dianggap sebagai “populer” saat itu, membawakan sebuah lagu berjudul “Telaga Sunyi”. Sama dengan lirik lagu pop jaman sekarang, “Telaga Sunyi” adalah juga sebuah narasi tentang cinta dan kesedihan. Lagu itu menceritakan seorang putri yang patah hati lalu menceburkan diri ke sebuah telaga sunyi. Simak sebagian lirik lagu Koes Bersaudara itu:

Kisah seorang putri
yang telah patah hati
lalu bunuh diri
tenggelam di telaga sunyi
bersama cintanya yang murni

Sejarah musik populer di Indonesia bisa kita telisik mulai tahun 1950-an. Saat itu, festival musik, pergelaran musik, dan misi kesenian (termasuk musik) mulai banyak diadakan Sejak tahun-tahun itu, telah berkembang sebuah genre musik yang disebut sebagai musik “hiburan” yang segera merebut pengaruh pendengar musik Indonesia. Ketika RRI mulai mengadakan pemilihan “Bintang Radio” pada 1951, musik “hiburan” jadi salah satu kategori dalam kontes itu di samping kategori seriosa dan keroncong.

Tahun 1960, musik pop makin berkembang di Indonesia dan mulai menyaingi genre musik yang berkembang tahun 1940-an seperti kroncong, gambus, dan musik Hawaian. Para penyanyi musik “hiburan” tahun-tahun itu antara lain Sam Saimun, Bing Slamet, Nunu Moraza, dan lain-lain.

Yang menarik adalah fenomena perbenturan musik dengan kekuasaan mulai pertengahan tahun 1960-an. Mulai tahun 1965, RRI tak lagi menyiarkan lagu-lagu yang dianggap “kebarat-baratan”, baik lagu asli dari barat maupun dari group musik Indonesia yang terpengaruh musik barat.

Kalau kita manut pada catatan kritis Daniel Dhakidae tentang kondisi tahun 1960-an, ada satu gejala di mana kekuasaan adalah pusat perputaran dari seluruh ide dan aktivitas dari sendir kehidupan lainnya. Barangkali, karena itu pula, muncul slogan “politik sebagai panglima”. Maksudnya, hampir seluruh sendi kehidupan bangsa dan negara Indonesia kala itu selalu ditentukan oleh aspek politik dan kekuasaan.

Bidang kebudayaan tak sepi dari pengaruh politik. Pertarungan sengit antara Lekra dan Manifes Kebudayaan barangkali bisa jadi contoh soal intervensi kekuasaan pada seni dan kebudayaan. Dhakidae bahkan menyebut bahwa pertarungan gagasan oleh golongan cendekiawan masa itu “justru di sarang kekuasaan itu sendiri dan malah boleh dikatakan bahwa kekuasaanlah yang menentukan jalan pertikaian itu”.

Seperti bisa kita tilik dari dokumen sejarah, kebudayaan populer juga ikut mendapat imbas dari politik. Musik-musik berbau barat dilarang demi “pencapaian jati diri bangsa yang murni” dan juga guna “merampungkan revolusi Indonesia yang belum selesai”.

Menjelang Gerakan 30 September 1965, panggung musik Indonesia hampir tak menampilkan kelompok musik pop dan lebih banyak didominasi oleh pertunjukan musik yang berisi penampilan lagu-lagu nasional, lagu daerah, atau lagu propaganda politik.
***

Dalam peringatan hari kemerdekaan Indonesia di kampung saya beberapa tahun lalu, sebuah band yang membawakan lagu-lagu Koes Bersaudara tampil. Para penonton—yang kebanyakan setengah tua—ikut bernyanyi, seolah lagu-lagu Koes Bersaudara adalah sebuah lagu yang “sah” saja—dan sama sekali tak bermasalah—dinyanyikan dalam peringatan HUT RI.

Hal yang demikian tentu tak akan terjadi sekitar 40 tahun yang lampau, jaman ketika Koes Bersaudara baru merintis jalan menjadi kelompok musik yang legendaris. Koes Bersaudara, oleh karena lirik lagunya yang “cengeng” dan meruapkan “pesimisme”, pernah dipenjara selama 100 hari mulai Juli 1965.

Mereka—yang sering meniru The Beatles—dianggap sebagai pembawa suara “kontrarevolusioner” dalam bidang musik. Lagu-lagu mereka dilarang, mereka ditahan karena musik mereka dianggap akan melemahkan semangat para pemuda Indonesia kala itu yang masih belum selesai “bertugas dalam revolusi”.

Meski dikecam, Koes Bersaudara tetap menyanyikan lagu-lagu cengeng mereka yang sering pula diejek sebagai “ngak ngik ngok” itu. Akibatnya, mereka makin sering mendapat kecaman, makin sering dicap kontrarevolusioner.

Demi lagu pop, Koes Bersaudara akhirnya masuk bui. Dalam kasus tersebut, lagu pop justru sebuah pembawa suara alternatif. Ia yang bernada cengeng, justru hadir guna melakukan “perlawanan” terhadap segala suara revolusioner yang mengaku gagah saat itu.

Pada titik itu, Koes Bersaudara bisa dibedakan dari kelompok musik pop jaman sekarang. Kini, lagu pop adalah sebuah jalur utama, bukan lagi sesuatu yang dijauhi. Band muncul silih berganti, tapi lagu pop tetap jaya.

Masa ini adalah masa di mana seleksi sebuah lagu tak lagi dilakukan oleh kekuasaan politis, tapi oleh mekanisme yang lazim dalam sebuah tata ekonomi yang kapitalistik: pasar. Mekanisme itu, terbukti jauh lebih ampuh karena ia mampu merangkul pihak-pihak yang melawannya menjadi komoditas yang justru mendatangkan untung.

Pasar: kekuatan itu yang kini jadi Tuhan para pemusik pop.

Sukoharjo, 1 Maret 2008
Haris Firdaus/www.rumahmimpi.blogspot.com

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s