Lebih Jauh dengan Koes Bersaudara

“MERDEKA!” Itulah yang diserukan lelaki yang sudah tergolong sepuh, Koesdjono (72) alias John Koeswoyo, didampingi sang adik, Nomo Koeswoyo (65), ketika keduanya mewakili Koes Bersaudara menerima penghargaan khusus Life Time Achievement pada acara Penghargaan Musik SCTV di Jakarta, tanggal 21 Mei lalu. Khalayak pun tertawa, melihat salam yang dalam konteks dunia hiburan sekarang terkesan “kuno” itu. Apalagi, sebelumnya John sempat keliru, mengira trofi berbentuk mikrofon yang diterimanya benar-benar mikrofon, sehingga ketika dia diminta bicara, piala itu yang hendak dijadikannya mike. John, Nomo, sebagaimana saudara-saudara yang mereka wakili, yakni Tony Koeswoyo (1936-1987), Yon Koeswoyo (64), dan Yok Koeswoyo (61), memang kini nyaris bisa disebut sebagai “sejarah masa lalu”. Dalam lintasan “sejarah masa lalu” dan nama besar mereka waktu itu pula, sebenarnya tercermin sejarah sosial Indonesia.

B>small 2small 0< hal tentang Koes Bersaudara sudah diketahui khalayak pencinta musik di Indonesia, termasuk ketika mereka dipenjarakan pemerintahan Presiden Soekarno karena musik “ngak-ngik-ngok”-nya. Hanya saja, di balik cap “ke-Barat-Barat-an” yang mereka terima ketika pemerintahan “Orde Lama”, kalau ditelusuri justru pada Koes Bersaudara kita menemukan semacam “otentisitas” ke-Indonesia-an, termasuk dalam sikap-sikap pribadi dan sosial mereka. Dalam beberapa hal pula, pada kisah kehidupan keluarga ini di masa lalu, tergores cerita-cerita mengenai kesederhanaan hidup, kerja keras banting tulang-semacam ilusi dari sebuah masyarakat yang ingin mencapai kemuliaan hidup lewat kerja. Bukankah justru ini semacam semangat “sosialisme”?

Sementara wujud musik mereka, yang pada zamannya dulu diwarnai pengaruh Everly Brothers, Kalin Twins, The Beatles, sampai The Bee Gees, bukankah itu hanya koinsidensi sejarah, yang bisa terjadi pada anak muda di segala zaman? Dalam hal pandangan hidup, Koes Bersaudara sebaliknya menggemakan pujian mengenai elok dan permainya tanah air kita, seperti lewat Pagi yang Indah, Angin Laut, atau riangnya kehidupan sosial kita lewat Dara Manisku, Bis Sekolah, dan lain-lain.

Menyimak penuturan mereka mengenai riwayat keluarga mereka, dari kakek-nenek mereka, ayah-ibu mereka, masa kanak-kanak sampai mereka semua menjadi orang dewasa dan orang tua, terlihat sebuah lingkungan keluarga dengan nilai-nilai sederhana, memiliki dignity, serta punya kepedulian pada lingkungan sosial. Senin (24/5) lalu, Kompas berbincang-bincang dengan John, Nomo, dan Yok di “kompleks Koes Bersaudara” di bilangan Jalan Haji Nawi, Jakarta Selatan. Dalam perbincangan selama hampir lima jam itu, John banyak menceritakan asal-usul keluarga mereka. Nomo, yang kelihatannya paling “gendeng” di antara saudara-saudaranya, menimpali dengan kisah-kisah perjuangan hidup mereka. Sedangkan Yok, banyak mengingat perjalanan musikal dari zaman Koes Bersaudara sampai Koes Plus.

Dari Tuban

Baiklah, sebaiknya dijelaskan lagi, bahwa riwayat mereka bisa dikatakan dimulai dari Tuban, sebuah kota pesisir di Jawa Timur. Di kota itu, pasangan Koeswoyo dan Atmini mempunyai sembilan anak, satu di antaranya meninggal dunia ketika masih kecil. Yang tersisa kemudian adalah delapan anak, lima lelaki dan tiga perempuan. Sesuai urutannya, mereka adalah Koesdjono (John), Koesdini, Koestono (Tony), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), Koesroyo (Yok), Koestami, dan Koesmiani. Kini, dari dinasti Koeswoyo itu sudah ada 33 cucu dan 28 cicit (dari kalangan cucu, barangkali orang masih ingat nama Chicha Koeswoyo dan Sari Yok Koeswoyo dulu).

Menceritakan asal-usul keluarga Koeswoyo, John memaparkan silsilah sampai ke buyut-buyut mereka. Dari situ, dia singgung dari pihak kakeknya sebetulnya ada darah Portugis, sementara dari pihak nenek ada darah Belanda. Dari silsilah yang cukup panjang, kemudian lahirlah Koeswoyo, ayah mereka, yang pada tahun 1940-an adalah seorang pegawai negeri di Tuban.

“Bapak saya, Koeswoyo, dulunya pegawai di Kabupaten Tuban. Terus karena ngganteng-nya, dia diliatin Bupati. Terus bapak saya dijodohkan dengan keponakannya, yaitu Atmini, yang kemudian menjadi ibu kami,” kata John. “Sesudah zaman Jepang, Bapak menjadi Asisten Wedana di Desa Kerek, terus ke Widang. Waktu Clash II, bapak saya digerebek Belanda. Dia diultimatum, mau kooperatif dengan NICA atau langsung masuk penjara Kalisosok. Karena anaknya masih kecil-kecil, Bapak memilih bekerja sama dengan Belanda. Bapak diserahi tugas di bagian distribusi, tetapi dia malah membantu pejuang dan menyalurkan bantuan pangan. Namun lama-lama ketahuan Belanda dan diancam akan ditembak,” lanjutnya.

Kata John, setelah penyerahan kedaulatan Republik Indonesia, ayahnya dikucilkan oleh teman-temannya, karena dianggap pernah bersikap kooperatif dengan Belanda. “Dia dipencilkan, sampai badannya kurus karena korban perasaan. Lama-lama Bapak berpikir, lebih baik pindah ke pusat, ke Jakarta.”

Ke Jakarta

Keluarga Koeswoyo pun pindah ke Jakarta. Di Jakarta, di Kementerian Dalam Negeri, tempat induk departemen di mana Koeswoyo bekerja, lagi-lagi ia merasa dikucilkan. “Departemen itu dikuasai orang Yogya,” ucap John. “Maka Bapak minta pensiun, sebelum pensiunnya mateng. Bapak terus bergabung dengan Bank Timur. Dia dipercaya mengelola onderneming (perkebunan-Red) di Solo. Saya di rumah dengan empat adik. Hanya dia (menunjuk Nomo) berpetualang sendiri ke Surabaya, kerja di pabrik genteng. Yang tiga ini, Ton, Yon, Yok, saya khawatirkan jadi crossboys…,” cerita John.

Karena ingin adik-adiknya memiliki “kegiatan positif”, John berinisiatif membelikan alat-alat musik bagi adik-adiknya. Waktu itu John sudah bekerja di Biro Yayasan Tehnik, sebelum kemudian pindah ke pembangunan Hotel Indonesia (HI). “Saya belikan alat musik itu untuk pemersatu adik-adik. Saya belikan bas betot, gitar pengiring dua, dan drum. Belinya sama Tony di Jalan Tembaga, Nonongan, Solo. Mengapa di Solo, karena waktu itu untuk urusan alat musik yang paling komplet di Solo. Alat-alat itu dibawa pakai kereta api ke Jakarta. Terus dari stasiun diangkut dengan truk ke HI, saya kan masih kerja di HI….”

John bercerita, bagaimana ayahnya yang bertugas di Solo sempat kaget melihat John dan Tony ke Solo. “Saya dimarahi, arep opo rene? (mau apa kemari?). Saya dibilang mau merusak adik-adik saya. Nanti jadi apa mereka?” kenang John.

Keberatan Koeswoyo anak-anaknya bermain musik adalah khas kecemasan yang dirasakan umumnya orangtua pada masa itu. Sang ayah suka menunjukkan suatu contoh, di mana di Tuban ada tukang biola yang sangat pintar bermain, namanya Pak Senen. Cerita John, “Dia itu matinya ngenes, terlunta-lunta. Dia matinya di Kampung Kawatan, di tempat pelacuran dan tidak ada yang menengok. Melas sekali. Waktu mau dikubur, yang mengantar cuma tukang cangkul penggali kubur.”

Ton Si Jenius

Oleh keluarganya, Tony Koeswoyo dipanggil Ton, atau Mas Ton, begitu adik-adiknya memanggil. Boleh dikata, Ton inilah “lokomotif” dan inspirator Koes Bersaudara. Bakat bermusiknya sudah kelihatan sejak dia kecil. Hampir semua saudaranya bisa bercerita, bagaimana Ton kecil ketika di Tuban suka memukuli ember, baskom, dan bejana-bejana lain yang diisi air dengan lidi yang ujungnya dipasangi biji jambu. Di tangan Ton, katanya dari ember, baskom dan lain-lain itu keluar suara yang unik.

“Dasar musik itu kan rhythm. Rasa rhythm dia itu kuat sekali,” tutur John. “Saya pernah ikut-ikutan memukul ember, tetapi rasanya kok tidak sebagus Ton. Kalau saya ikut-ikutan mukuli ember pakai lidi yang ujungnya ada jeruk pecelnya, dia nangis. Dia tidak mau diganggu dan saya dianggap pengacau.”

Kecintaan Ton pada musik itu terus berlanjut. Ketika tahun 1952 seluruh keluarga diboyong ke Jakarta (mereka tinggal di bilangan Mendawai, Kebayoran Baru), Ton makin menjadi-jadi dengan kegiatan bermusik. John, sang kakak, ingat ketika Ton duduk di bangku SMA, dia membelikan adiknya itu sebuah gitar di Pasar Baru. “Gitar itu masih ada, nanti mau saya lelang, ha-ha-ha…,” katanya.

Dikenangnya, bagaimana Ton terus memainkan gitar itu siang- malam. Ton lupa belajar, sampai- sampai katanya Ton menjadi tidak naik kelas dan lulus ujian, yang kalau dihitung sampai tiga kali.

Pada waktu sekolah pun, Ton sudah bermain band. Dia menjadi bintang, karena pintar memainkan melodi. Cewek-cewek mulai menggandrunginya. Dalam perjalanan bermusik di masa remaja itu, mereka juga mulai bermain di berbagai tempat di Jakarta, ditanggap orang untuk memeriahkan pesta ataupun di pesta-pesta perkawinan. Mereka menamakan kelompoknya Kus Brothers (semula memang ditulis dengan “u”, bukan “oe”). Anggotanya banyak, termasuk Jan Mintaraga, yang di zaman meledaknya komik Indonesia di tahun 1970-an bolehlah disebut sebagai “ikon komik Indonesia”. Katanya, Jan yang menulis pada vandel dari kelompok Kus Brothers, semboyan kelompok ini, yakni “Missa Solemnis” (sebuah karya Beethoven, yang artinya kurang lebih, “sesuatu yang bersumber dari hati akan mendapat tempat di hati juga”).

Ketika John membelikan seperangkat alat musik bagi adik-adiknya, dibuat semacam perjanjian dengan Tony, bahwa dia hanya bermain dengan saudara-saudaranya, dengan adik-adiknya. Dari situ, solidlah Koes Bersaudara.

Dihasut oleh pelat

Musik Koes Bersaudara sejak awal memang sangat dipengaruhi oleh penyanyi maupun kelompok-kelompok luar negeri seperti Everly Brothers, The Ventures, Kalin Twins, dan lain-lain. Soalnya, mereka memang mencari referensi bermusik pada piringan-piringan hitam atau pelat. Dengan kata lain, mereka “dihasut” oleh pelat-pelat dari para pemusik Barat.

Mereka masuk studi rekaman pertama kali di Studio Irama, milik Yos Suyoso atau biasa dipanggil Mas Yos (kini sudah almarhum). Tadinya, mereka sebetulnya hanya ke situ untuk memberikan contoh rekaman lagu-lagu mereka. Ternyata, hari itu juga mereka disuruh rekaman. Jadilah album pertama mereka (tahun 1962), yang pada masa itu di setiap piringan hanya terdapat dua lagu. Lagu mereka adalah Bis Sekolah dan Dara Manisku.

Koes Bersaudara berkembang menjadi “nama besar”. “Namun secara komersial kami tak mendapat hasil. Saya pernah kok di rumah sampai enggak punya duit. Saya sampai harus nyopir bemo untuk mendapat duit. Rutenya dari Mayestik-Kebayoran Lama-Santa,” cerita Nomo Koeswoyo.

Nomo inilah yang dijuluki keluarganya sebagai “paling pintar berbisnis” selain “tukang berkelahi”. Menceritakan tinggal sendiri di Jakarta bersama kakak dan adik- adiknya, Nomo berujar, “Kami masih mendapat kiriman uang dari Bapak, tetapi belum seminggu uang sudah habis. Suatu hari saya beli singkong sepikul. Kalau lapar mereka nggodok singkong. Eh, belum tiga hari singkong sudah busuk semua, hua-ha-ha….”

Di Penjara Glodok

Episode ini, sudah banyak diungkap media massa. Tanggal 29 Juni 1965 personel Koes Bersaudara ditangkap dan ditahan di Penjara Glodok, yang kini dikenal sebagai kompleks pertokoan itu. Alasannya, mereka dijebloskan ke penjara karena menggelar musik yang “ke-Barat-Barat-an”, yang dianggap tidak sesuai dengan kebijakan politik pada masa itu. Nomo sempat menuturkan, bagaimana kisah hidup mereka di balik terali besi selama tiga bulan. Ada tahanan yang iba terhadap mereka, namanya Oom Ging. Si oom ini iba melihat jatah makanan anak-anak ini. “Oom Ging lalu memberi sayuran yang ditanam sendiri. Belakangan saya tahu, tanaman itu diberi pupuk dari kotoran Oom Ging sendiri. Waduh…,” cerita Nomo sambil tertawa.

Yang tidak banyak diketahui orang, seperti dituturkan Yok Koeswoyo, sebenarnya mereka dimasukkan penjara pada masa itu sebagai bagian untuk menjadikan Koes Bersaudara sebagai intelijen tandingan (counter intelligence) di Malaysia. Saat itu, Indonesia sedang berkonfrontasi dengan Malaysia.

“Zaman dulu ada KOTI (Komando Operasi Tertinggi). Kami direkrut oleh beliau-beliau, komandannya Kolonel Koesno dari Angkatan Laut. Dibikin seolah-olah pemerintah yang ada tidak senang sama kami, lalu kami ditangkap. Dalam rangka ditangkap inilah kami nanti secara diam-diam keluar dan eksodus ke Malaysia. Di sana kami dipakai sebagai counter intelligence. Namun, pas keluar dari penjara pada tanggal 29 November, meletus G30S,” cerita Yok.

Jadi masuk penjara itu hanya sebuah jalan menuju fase berikutnya?

“Ya, jadi dibentuk opini seolah-olah kami tidak suka pada Soekarno,” jawab Yok.

Waktu masuk penjara ada perasaan menyesal atau tidak?

“Tidak, kita menyadari itu kok.”

Ini tak pernah terungkap ya?

“Ya, selama ini kita selalu rapet. Kami ikut menjaga rahasia negara. Di KOTI itu kami masuk D3, kami bisa dibangunkan, tapi bisa juga ditidurkan.”

Hal sama, katanya dilakukan kelompok ini di paruh pertama tahun 1970-an (sebelum Timor Timur bergabung menjadi wilayah Indonesia, atau ada pula yang menyebut sebagai proses aneksasi), untuk Timor Timur. Dalam rangka “proyek politik” ini, katanya lahir lagu semacam Diana (lagu itu bercerita mengenai putri petani, bernama Diana. Perhatikan, Diana adalah nama yang tidak umum untuk petani di Jawa.) Ingat juga lagu Da Silva.

Anda masuk ke Timor Timur?

“Kami berangkat ke sana. Kami bikin pertunjukan di gedung. Waktu menuju Hotel Turismo, ada orang Timur yang mendekat dan menggedor-gedor mobil kami sambil berteriak-teriak, ’Viva Presidente Soeharto!’ Waktu kami pulang dari Timor Timur kami disambut sama Adam Malik di Tanah Abang,” ucap Yok.

Seru ya….

“Setelah mengalami itu semua, nasionalisme kami tambah tebal. Itu makanya ada lagu Nusantara I, II, dan seterusnya.”

Tetap sederhana

Waktu terus berlalu. Nama besar Koes Bersaudara ternyata tak terlalu berkolerasi dengan sukses ekonomi mereka. Penghasilan mulai masuk katanya sejak kelompok ini berubah nama menjadi Koes Plus, di akhir tahun 1960-an. Awal tahun 1970-an, nama Koes Plus berkibar-kibar. Penabuh drumnya adalah Murry, menggantikan Nomo. Nomo diganti, katanya karena sikap keras Ton, mau bermusik atau melakukan kegiatan lain. Saat itu, Nomo menyatakan tak bisa sepenuhnya bermain musik, karena dia sudah berkeluarga, punya anak, dan musik saat itu tidak sepenuhnya bisa dijadikan gantungan hidup.

Kini, Koes Plus tetap ada, dengan hanya Yon dari keluarga ini yang masih aktif di panggung. Para putra lelaki Koeswoyo yang lain, seperti John, Nomo, dan Yok, tinggal di satu kompleks, dengan gaya hidup sederhana mereka, dengan dignity mereka, sebagai sosok-sosok berkarakter kuat, yang pernah memberi warna pada sejarah sosial kita. (Kompas, 30 Mei 2004).*

Meniti Jejak Tony Koeswoyo

GRUP musik yang sekarang banyak bertumbuh barangkali harus cemburu kepada Koes Bersaudara yang memiliki Tony Koeswoyo. Bagaimana tidak? Sebagai inspirator dan jiwa grup musiknya, Tony adalah pemetik gitar, penata musik, dan pencipta lagu yang sulit dicari tandingannya.

KIPRAHNYA bahkan semakin bertambah dalam Koes Plus dan menghasilkan lebih dari 200 lagu yang masih disukai sampai saat ini, sekitar 40 tahun setelah diciptakan. Disadari dia atau tidak, dengan lagu-lagunya itu Tony sekaligus meletakkan batu pertama industri musik Indonesia yang dikenal sekarang.

Tony, yang lahir di Tuban (Jawa Timur), 19 Januari 1936, dengan nama Koestono Koeswoyo, adalah anak keempat dari sembilan anak pasangan Koeswoyo dengan Atmini. Keempat anggota Koes Bersaudara adalah Koesjono (Jon), Koesnomo (Nomo), Koesyono (Yon), dan Koesroyo (Yok).

Koeswoyo yang senang bermusik mahir memainkan gitar dan menyanyikan lagu-lagu Hawaiian. Walaupun demikian, diam-diam di dalam hati ia tak ingin anak-anaknya mengikuti hobinya itu.

Ternyata, harapannya itu tidak terkabul. Tony usia empat tahun bisa berjam-jam menabuh ember dan baskom dengan pemukul lidi-lidi yang ujungnya ditancapkan bunga jambu yang masih kuncup.

Tahun 1952, keluarga Koeswoyo pindah ke Jakarta. Mereka menempati rumah di Jalan Mendawai III/14, Kebayoran Baru, yang berkamar dua, masing-masing 3 x 3 meter. Tony dan saudara-saudaranya tidur beralas tikar di lantai karena tempat tidur yang dibawa dari Tuban ukurannya terlalu besar.

Beranjak remaja, Tony tidak mau lagi menabuh ember. Naluri musiknya semakin menggebu-gebu dan ia minta dibelikan gitar, biola, dan buku-buku musik. Koeswoyo memenuhi permintaan itu untuk mengalihkan kegiatan anak-anaknya supaya jangan ikut-ikutan berkelahi dan menjadi krosboi.

Tony rajin mengikuti berbagai kegiatan kesenian mahasiswa seperti GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), HMI (Himpunan Mahasiswa Indonesia), dan berpartisipasi sebagai pemusik. Ia juga suka hadir di pesta-pesta dan ikut memainkan lagu-lagu yang sedang digandrungi anak-anak muda waktu itu.

Sedemikian seriusnya, Tony belajar memainkan gitar, ukulele, piano, dan meniup suling. Lagu-lagu Indonesia dan Barat juga berusaha didengarnya dari RRI (Radio Republik Indonesia), ABC (Australia Broadcasting Corporation) maupun BBC (British Broadcasting Corporation).

Melihat kemajuan Tony, diam-diam Jon memberitahukan bapaknya bahwa Tony punya jari-jari emas. Sentuhannya pada alat musik, terutama gitar, menghasilkan nada-nada dan harmonisasi yang memang masih sederhana namun sudah memperlihatkan magma yang sedang mendidih.

Tidak bergeming

Menghadapi kekerasan hati bapaknya, Tony tidak bergeming. Tekadnya bermusik justru semakin bergelora. Ketika duduk di bangku SMA, dibentuknya band di sekolahnya, Gita Remaja. Kemudian bersama pelukis komik Jan Mintaraga- yang sempat ikut Kus Bersaudara-dan Sophan Sophiaan, ia mendirikan band Teenage’s Voice dan Teruna Ria.

Tony menjadi bintang pesta karena begitu mahir membawakan lagu-lagu Barat yang sedang populer waktu itu. Namun, Tony tetap berusaha memenuhi harapan bapaknya untuk meneruskan sekolah hingga sampai ke bangku kuliah Sastra Inggris, Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Jakarta.

Akan tetapi, secara diam-diam ia mengajar kakaknya, Jon, dan adik-adiknya (Nomo, Yon, dan Yok) bermain musik. Mereka berlatih dengan peralatan yang dibeli dari gaji Jon dan uang tabungan ibunya. Gitar, bas, drum, dan amplifier mulai menumbuhkan semangat dan melahirkan keyakinan bahwa mereka juga bisa mendirikan band.

Namun, Koeswoyo tetap tak setuju. Maka, Atmini dan Jon menjadi sasaran kemarahannya. Dalam keadaan demikian, Tony justru memberikan semangat kepada saudara-saudaranya bahwa kalau sudah sekali bermusik, jangan tanggung- tanggung, apalagi berhenti.

Dari rumah di Jalan Mendawai yang ruang tamunya sempit itu pun hampir setiap hari terdengar suara musik. Mereka menyanyikan lagu-lagu Barat yang sedang populer, terutama karya Kalin Twin dan Everly Brothers. Lagu pop Indonesia waktu itu dianggap “kampungan” sehingga enggan dibawakan grup musik remaja, termasuk oleh Tony dan adik- adiknya.

Dengan menyandang nama Kus Bros, sekitar tahun 1958 mereka malang-melintang dalam berbagai acara ulang tahun atau pesta pernikahan hingga sunatan. Honor waktu itu soal kedua, yang penting bisa tampil di depan publik dan menyantap makanan enak.

Jon, Nomo, Yon, dan Yok menganggap pikiran itu gila. Tony pantang mundur, bahkan keluar dari tempatnya bekerja di Perkebunan Negara supaya mempunyai banyak waktu untuk mencipta lagu.

di tahun 1962, perusahaan rekaman yang mereka ketahui ada di Jakarta adalah PT Irama, milik Suyoso yang dikenal dengan panggilan Mas Yos. Tony menyiapkan sepucuk surat permohonan untuk bisa rekaman dan kemudian bersama Jon, Nomo, Yon, Yok serta Jan Mintaraga menuju ke Cikini, kantor PT Irama dengan naik bus.

Kus Brothers sebagai band sudah sering tampil di berbagai pesta, dan Mas Yos juga sudah pernah mendengar tentang mereka. Bersama Jack Lesmana, mereka menantang Tony menyiapkan lagu dalam dua minggu, baru boleh masuk ke studio PT Irama untuk rekaman.

Tony menerima tantangan itu dan kembali dua minggu kemudian. Mas Yos dan Jack terkejut sekaligus terkagum-kagum kepada anak muda yang penuh semangat itu. Tanpa pikir panjang, mereka dipersilakan merekam lagu-lagunya hari itu juga.

Tony bermain gitar melodi, bersama Jon (bas), Nomo (drum), Jan Mintaraga (gitar) mengiringi duet vokal Yon dan Yok. Baru tiga lagu Jan Mintaraga mengundurkan diri, lebih memilih melanjutkan sekolahnya di Akademi Seni Rupa Indonesia di Yogyakarta dan kemudian menjadi komikus. Sementara Jon dijadikan gitaris, dan bas dimainkan Yok.

Mas Yos menyarankan Kus Brothers yang sekarang anggotanya empat orang itu diganti namanya menjadi Kus Bersaudara. Dengan nama baru inilah album pertama Tony dan adik-adiknya diterbitkan tahun 1963, bersamaan dengan tahun dilangsungkannya Ganefo (Games Of The New Emerging Forces) atau pesat olahraga gagasan Bung Karno.

“Kalau seandainya dalam penyajian musik saya Saudara menemukan pengaruh-pengaruh dari penyanyi Barat terkenal Kalin Twin dan Everly Brothers, atau barangkali asosiasi Saudara dalam mendengar musik kami tertuju ke arah mereka, itu tidak kami sangkal dan salahkan karena memang mereka-lah yang mengilhami kami hingga terbentuk orkes kami ini,” demikian Tony mengatakan dalam sampul piringan hitam (PH) pertama Kus Bersaudara.

PH yang berkode IML 150 berisikan 12 lagu yang diproduksi tepat 40 tahun yang lalu itu adalah Dara Manisku, Jangan Bersedih, Hapuskan, Dewi Rindu, Bis Sekolah, Pagi Yang Indah, Si Kancil, Oh Kau Tahu, Telaga Sunyi, Angin Laut, Senja, dan Selamat Tinggal.

Waktu itu usia Tony 26 tahun, Nomo (23), Yon (19), dan Yok (17). Jadi tidak heran lagu-lagu mereka berisikan lirik-lirik tentang harapan, cinta, kebahagiaan, dan kesepian. Ada kesan pada penerbitan PH ini Kus Bersaudara bertindak sebagai band pengiring Yon dan Yok.

Selain itu, yang perlu dicatat, 12 lagu Kus Bersaudara itu adalah ciptaan Tony. Demikian juga dalam beberapa PH single seperti yang berkode IME-121 berisikan empat lagu: Dara Berpita, Untuk Ibu, Di Pantai Bali dan sebuah lagu karya Pak Dal, Bintang Kecil. PH single lainnya yang berkode IMC-1868 hanya berisikan dua lagu, Kuduslah Cintaku dan Harapanku.

Walaupun sudah memiliki lagu-lagu sendiri dalam bentuk rekaman, Kus Bersaudara masih dibayar dengan honor yang seadanya kalau menyanyi di panggung. Lagu-lagu Tony boleh saja populer, tetapi kehidupan ekonomi keluarga Koeswoyo tidak banyak berubah.

Yang berubah justru Kus Bersaudara menjadi Koes Bersaudara. Demikian juga musik dan vokal Yon dan Yok, dari gaya Kalin Twin dan Everly Brothers ke The Beatles. Bahkan, mereka sampai merasa perlu berjas tanpa leher seperti yang dikenakan oleh John Lennon dan kawan- kawan.

Penjara Glodok

dua tahun setelah menerbitkan PH pertama, Koes Bersaudara menjadi grup musik papan atas. Namun, Tony dan adik-adiknya masih merasa perlu manggung secara berkala di gedung bioskop Megaria sebagai selingan pemutaran film atau di International Airport Restaurant Kemayoran dua kali seminggu. Yang hadir hampir selalu minta mereka membawakan lagu-lagu The Beatles.

Padahal, pemerintah memberlakukan Panpres Nomor 11 Tahun 1965 yang melarang musik “ngak- ngik-ngok” yang berasal dari Inggris dan Amerika Serikat. tetapi, Tony sulit mengelak permintaan penggemarnya.

Bersama Dara Puspita dan Quarta Nada, Koes Bersaudara tanggal 25 Juni 1965 diundang ke sebuah pesta. Ketiga band itu membawakan lagu-lagu Barat secara bergantian.

Ketika Koes Bersaudara yang tampil terakhir baru saja mulai membawakan nomor The Beatles, I Saw Her Standing There, lemparan batu-batu menyasar ke atap rumah itu diikuti teriakan “Ganyang Nekolim! Ganyang Manikebu! Ganyang Ngak-ngik- ngok!”

Pertunjukan pun terhenti. Koes Bersaudara dipaksa minta maaf dan Tony memenuhi permintaan itu serta dipaksa berjanji tak akan memainkan lagu ngak-ngik-ngok lagi. Setelah nama-nama personel dari band penghibur itu dicatat oleh pengunjuk rasa, semua bubar.

Tony, Nomo, Yon, dan Yok pulang dengan perasaan lega. Tetapi, empat hari kemudian, tepatnya tanggal 29 Juni 1965, mereka ditangkap dan dijebloskan ke Penjara Glodok. Perintah penangkapan berjudul Surat Perintah Penahanan Sementara Nomor 22/023/K/ SPPS/1965 yang dikeluarkan Kejaksaan Negeri Istimewa Jakarta dan ditandatangani L Aroen SH.

Kurang 100 hari keempat bersaudara itu mendekam di Penjara Glodok, yang sekarang telah menjadi pusat perdagangan Glodok yang antara lain menjajakan dengan bebas lagu-lagu Tony yang diproduksi para pembajak. Mereka dibebaskan 27 September 1965.

Pengalaman selama 100 hari itulah yang antara lain dituangkan ke dalam dua album Koes Bersaudara, Jadikan Aku DombaMu dan To The So Called The Guilties yang diterbitkan Dimita Moulding Company dengan label Mesra.

Kedua album itu berisi 20 lagu Tony dan satu ciptaan Yon: Untuk Ayah Ibu, Lonceng Yang Kecil, Rasa Hatiku (Yon), Jadikan Aku DombaMu, Aku Berjanji, Balada Kamar 15, Bidadari, Bilakah Kamu Tetap Di Sini, Mengapa Hari Telah Gelap, Untukmu, Bunga Rindu, Lagu Sendiri, Coorman, Hari Ini, Three Little Words, To The So Called The Guilties, Apa Saja, Di Dalam Bui Poor Clown, dan Bintang Mars. Tony mengakui terus terang, musik dalam album-album ini banyak dipengaruhi The Beatles.

Hingga era Koes Plus, lirik lagu Tony dinilai sejumlah kritikus tidak mengalami kemajuan, kecuali beberapa saja seperti Nusantara. Namun, dalam penyusunan nada dan aransemen, Tony diakui banyak kalangan.

Mereka bahkan menjadi “pelumas” roda industri musik Indonesia sampai saat ini. Jarang ada pencipta lagu yang bukan hanya menciptakan lagu pop berbahasa Indonesia, namun juga dalam bahasa Jawa, keroncong, kasidahan, Natal, anak-anak, pop Melayu dan bosanova. Koeswoyo Senior yang tadinya menentang, ikut menciptakan lagu dan mendorong Tony memopulerkan keroncong bagi anak-anak muda generasinya.

Perubahan politik dari Orde Lama ke Orde Baru membuka kesempatan lebih luas bagi Koes Bersaudara untuk berkembang sehingga mereka mendapat panggilan pentas di mana-mana. Tony dan adik-adiknya tampil sebagai lambang kebebasan atas penindasan dan kesewenang-wenangan politik.

Bulan Agustus 1966, Koes Bersaudara melakukan pertunjukan keliling Jawa dan Bali. Hasilnya, keluarga Koeswoyo bisa pindah rumah yang lebih luas, Jalan Sungai Pawan 21 Blok C, masih di Kebayoran. Tetapi, setelah itu kehidupan anggota grup ini tetap dalam kesulitan. Nomo, misalnya, meninggalkan posisinya sebagai penabuh drum dan memilih berusaha di luar bidang musik untuk menghidupi keluarganya.

Posisinya kemudian diisi Murry, mantan drummer Patas Band. Lahirlah Koes Plus pada tahun 1969. Dalam era inilah Tony, Yon, dan Yok mendirikan Kompleks Koes Plus di Jalan Haji Nawi, Kebayoran Baru, setelah mereka menjadi grup papan atas setelah lagu Derita serta Manis Dan Sayang menawan hati para penonton yang hadir dalam acara Jambore Band di Istora Senayan akhir tahun 1969.

Sementara itu, Nomo ternyata tetap tak bisa lepas dari musik. Setelah berhasil dengan berbagai bisnisnya, ia lalu membangun studio rekaman dan mendirikan grup No Koes dan Nobo, serta bersolo karier. Kegiatan Nomo ini pada akhirnya memancing usaha mengumpulkan anggota Koes Bersaudara kembali.

Tony, Nomo, Yon, dan Yok memang berkumpul untuk menyelesaikan sejumlah lagu dalam album rekaman Kembali. Tetapi, usaha itu ternyata tidak mampu mengembalikan kejayaan Koes Bersaudara. Tony pun terus melangkah bersama Yon, Yok, dan Murry mengibarkan bendera Koes Plus hingga akhir hayatnya.

Tony meninggal dunia pada 27 Maret 1987 setelah dirawat selama dua bulan karena kanker usus. Ia meninggalkan dua istri, Astrid Tobing dan Karen, serta lima anak. (Kompas, 10 Oktober 2003).*

Advertisements

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s